Tarian Badai (Dance of the Storm)

Tarian Badai (Dance of the Storm)

a Novel by B.B. Triatmoko

Illustration by Tatang Maruto

 

The May 12, 1998 incident that killed four Trisakti students was a milestone in the refromation of the Indonesian nation. Shots in the head, throat, and chest within the campus make people begin to realize that there has been a real “crime” by the government. It became the starting point of the student’s strength in the siege of the New Order government. The culmination of the reformist tread towards a democratic transition, freedom of expression is protected by the state. Everything related to the aspirations of the people becomes a refreshing fruit. That is democracy and its essence; every person has the right to live in Indonesia’s homeland, safe and protected. Maybe that’s a glimpse of the dream of the student movement at that time. The turmoil of the tragedy of 1998, in addition to starting with a globalized economic crisis, also experiences in the form of lies, intimidation and terror that traces and becomes blood to give birth to the spirit of rebellion. It is the spirit that the author wishes to convey with the title “Tarian Badai” as an illustration of the events that led Indonesia to the ‘reform’ gate of 1998.

They are Bukit and Daniel, the students of one of the top universities in Yogyakarta. Two highly dedicated and competent intellectuals. Daniel is a student of the wealthy clan (conglomerate) who is the father of the palm oil business director for the Borneo and Malaysian branches. Student who are not arrogant, let alone just boast of her big family. She is a student who respects to herself, cares about his social environment until he chooses to stay in boarding with his friends rather than living in a luxury apartment his father provides. Daniel taking an astronomy who eventually meets a psychology student who has shrewdness in dance, she is Anna, the beautiful girl of the Keraton Solo, also the great-grandmother of Mankunegara VII.

…………….

Peristiwa 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti merupakan tonggak dari refromasi bangsa Indonesia. Tembakan di kepala, tenggorokan, dan dada di dalam kampus membuat orang mulai sadar bahwa telah terjadi “kejahatan” nyata oleh pemerintah. Hal itu menjadi titik tolak kekuatan mahasiswa dalam mengepung pemerintahan orde baru. Puncak dari gendrong reformasi menuju transisi demokrasi, kebebasan mengeluarkan pendapat dilindungi oleh negara. Segala hal yang berkaitan dengan aspirasi rakyat menjadi buah yang menyegarkan. Itulah demokrasi dan hakekatnya; setiap orang berhak hidup di tanah air Indonesia, aman dan dilindungi. Mungkin itulah sekilas mimpi gerakan mahasiwa pada saat itu. Gejolak terhadap tragedi 1998 selain dimulai dengan krisis ekonomi yang mengglobal, juga pengalaman dalam bentuk kebohongan, intimidasi dan teror yang membekas dan menjadi darah hingga melahirkan semangat pemberontakan. Semangat itulah yang ingin disampaikan pengarang dengan mengambil judul “Tarian Badai” sebagai gambaran dari peristiwa-peristiwa yang mengantarkan Indonesia pada gerbang ‘reformasi’ 1998.

Dialah Bukit dan Daniel mahasiswa salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Dua mahasiwa yang memiliki dedikasi tinggi dan intelektual yang kompetetif. Daniel mahasiswa dari keluraga kalangan berduit (konglomerat) yang ayah direktur bisnis kelapa sawit untuk cabang Kalimantan dan Malaysia. Mahasiswa yang tidak angkuh, sombong, apalagi sekedar membanggakan keluarga besarnya. Ia adalah mahasiswa yang menghargai dirinya, peduli kepada lingkungan sosialnya hingga ia memilih untuk tinggal di kos bersama teman-temannya dari pada tinggal pada apartemen mewah yang disediakan bapaknya. Danile Mengambil jurusan perbintangan (astronomi) yang pada akhirnya membuat bertemu dengan mahasiswi jurusan psikologi yang memiliki kelihaian pada seni tari, dia-lah Anna, gadis cantik anak dari keturuan keraton Solo, juga buyut dari Mankunegara VII.

 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *